Fenomena Friendster

Agak telat siy kalo ngomongin friendster hari gini..

Abis gimana doong, kan baru sekarang tertariknya.:P

Melongok tampilan friendster, sembari ngebayangin karakter si empunya. Bukankah setiap orang nampak sedang merepresentasi “how-do-i-look” sesuai citra yang ingin ia bangun –di sadari atau tidak- bagian mana dari sosok dirinya yang ingin di perkenalkan. Lihat saja dari tampilan / display: mulai pilihan warna, kalimat, foto, dan sebagainya.

Lalu, anda ingin di kenal sebagai apa? humble and friendly, generous and positive-thinking?, humorous but smart, gaul tapi juga nyufi (halaaah;), atau malah nganggap diri bukan siapa-siapa alias ‘gak penting’? –lhaa ini, yo..kalo gitu jangan mrenster atuuh..- what an ambiguous statement.:D

Perhatikan comment and testimony yang kadang..suprisingly. Ketika suatu comment ‘childish’ ternyata di buat oleh seorang yang chronological-agenya above 30. Ndak usah heran, toh umur kronologis tidak mengindikasi tingkat maturity seseorang.;)

Haha..dibilangin childish, barangkali diantara pembaca blog ini ada yang langsung defense: “ya, inilah gue yang apa adanya.” atau “ini wilayah punya gue. Terserah dong gue mau apa” atau “nyante aja, ga usah ngeribetin diri” and sort of. Well, it’s up to you, dear..ga usah sensi gitu dooong;)

Fenomena friendster, di satu sisi, mungkin bisa di sebut mukjizat abad ini. Bayangkan di sela waktu yang terbatas, urusan pekerjaan dan keluarga yang menyita waktu, terpisah ruang, limited ‘me-time’. Friendster adalah celah yang membuat kita sejenak melonggokkan kepala pada kehidupan yang lebih berwarna. Lepas –sejenak- dari jeratan tuntutan status yang kita sandang. Menyapa sahabat dan kerabat, menggali kenangan, berbagi kisah lalu, menertawakan diri masing-masing. Sharing, kata orang komunikasi. Catharsist, kata orang psikologi.

Ada juga yang memanfaatkan Friendster sebagai ajang membangkitkan rasa percaya diri. Mencari support dari sekitar bahwa kehidupan kita hari ini sungguh ‘berharga’. Kehidupan yang serba ketat dalam lingkungan yang penuh persaingan kadang meluruhkan rasa percaya-diri bahwa kita ada dan perlu (ada). Sembari berunjuk diri pula ke pasangan that i’m still attractive (suuiiit..suiiit):v. Intinya: untuk menghibur dirilah. Maka berlomba-lombalah para friendster-mania saling meng-invite satu sama lain. Semakin banyak yang ngasih comments, testimony, semakin ngerasa that we’re special-one.;) beken euy..!

Kayaknya friendster bisa jadi alternatif terapi, deh. Friendster-therapeutic.;)

Itulah tadi beberapa alasan mengapa orang berfriendster-ria. But, gimana halnya dengan anak-anak sekolah yang ikutan friendster? motivasinya untuk nyari temen sebanyak2nya. Seru aja kali ya, kalo banyak yang mampirin friendster-nya. Itu tadi. Berasa beken. Friendster sekarang, yaah.. kurang-lebih sama halnya dengan korespondensi alias sahabat pena jaman kita kecil dulu.;)

Semakin banyak yang peduli, nambah banyak yang nunjukin sayangnya ke kita, makin membuat kita berasa ‘berarti’ (taelaaa..) Heheh.. ternyata kita ndak beranjak dari fase kanak-kanak ya.

Oh, ya, bisa nebak ndak? siapa sajakah kiranya mereka yang berfriendster-ria?

saya coba identifikasi beberapa golongan:

1. Orang yang punya waktu lebih ( dan punya duit lebih juga),

2. Pingin escape sejenak dari ‘realita’ (catharcist ceritanya)

3. Orang yang merasa kehidupannya cukup bisa di banggakan atau di pamerkan pada orang lain (entah berupa pengetahuan, pengalaman, dsb)

4. Ada juga yang tipikal: haus puji-sanjung,

5. Paling banyak siiy-ikut-ikutan! (biar di bilang ga ketinggalan jaman tuuh.;)

Sekarang, coba perhatikan berbagai testimonial dan comment berikut kategorinya. Maaf kalo pengkategoriannya rada judging -a book by its cover-;)

Eh, tapi sebelumnya hapunteeen pisan, hampura sak besar2nya kalo sekiranya comments anda yang ’terpilih’ untuk di analisis. Bukan karena jutek atau apa, kebetulan aja yang ke baca comments anda. Mudah-mudahan kerelaan anda jadi amal-sholeh, jadi sarana bagi sahabat lain untuk bercermin diri. Sekaligus, yaaah.. itung2 sebagai input untuk mengenal bumi diri (itu juga kalo terima).

Lanjut yaa.. Ke tulisan berikutnya

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: