Dunia Hapal-menghapal (bag.1)

Apa pekerjaan terberat seorang ibu saat anaknya mulai masuk sekolah? Membantu anak menghapal pelajaran. Ya, bahkan sejak masuk TK, ibu sudah ikutan puyeng membantu anak menghapal dari mulai abjad, angka, nama-nama hewan dan materi lainnya. Beranjak ke SD, makin heboh lagi hapalannya. Kalo ga ngapalin, pertanda ga bakal bisa ngejawab soal berikut: 

”Kamu membantu ibu menyapu halaman di rumah. Maka kamu adalah anak yang…”a. Baik              b. Rajin             c. Membantu 

Kira-kira apa jawaban anda? Atau jawaban anak anda? Yang a, be atau ce? Eit..eit tunggu dulu, ternyata ini bukan open-ended question sebagaimana yang kita kira. Walau nuansa soalnya seperti memberi ruang bagi siswa mengekspresikan pendapatnya dan bersifat kualitatif, jangan terjebak, soal itu adalah sepenggal ‘wacana’ dalam buku paket PPKN kelas 2. Maka  jawabannyapun harus sesuai dengan yang tertera dalam buku.  Simak dengan baik dan hapalkan kata-demi kata, dijamin nilai PPKN bakal baik. Begitu saran tersirat dari soal itu. 

Liat lagi contoh soal siswa kelas 1 SD: 

Ayunan bergerak karena…

 Kalo ini jawabannya apa ya? Seorang anak menjawab: dienjot! Ya, berdasar pengalamannya, ayunan bisa bergerak karena usaha dia untuk menggerakkan. Benarkah? Engga tuh. harusnya: angin. Kok? Iya, soalnya kata buku begitu. 

Lalu bagaimana dengan mata pelajaran lainnya? IPS? Wah, seru nih kudu ngapalin 31 propinsi berikut rumah adat, pakaian, tarian, lagu, de el el, de es be. Matematika? Jangan lupa membekali anak dengan gulungan kertas berisi kali-kalian, atau rumus mencari luas, agar siap bila sewaktu-waktu ditanya bu guru. Bagaimana dengan materi pengetahuan alam? Apakah anak-anak kita masih menghapal balon menyusut dimalam hari dan mengembang di siang hari?. Geografi? hapalkan baik-baik arah mata angin dan letak astronomis Indonesia. 

Wah..wah sepertinya hapalan mendominasi penyampaian materi di kelas ya? Kenapa ya? Analisa dari sudut pandang psikologi perkembangan, terkait dengan karakteristik usia balita yang imitating, suka nge-beo. Anak-anak dengan mudah mencontoh setiap kata-tindak-laku orang dewasa disekitarnya. Lebih mudah bagi ibu guru menyampaikan suatu materi melalui hapalan lewat nyanyian, kata-kata, syair dan sejenisnya. Selain itu, hapalan memang jadi pintu masuk untuk memahami materi-materi lain yang lebih kompleks. Misalnya di tingkat SD, kalo anak ga hapal kali-kalian, maka sulit untuk belajar akar. Hapalan juga dianggap paling observable dan measurable.  Kita bisa tau jejak materi itu sudah mengendap dalam ingatan anak, bila dia bisa memberikan jawaban sesuai yang ibu guru pinta. Kecerdasan anak juga dideteksi dari secepat dan sebanyak apa ia bisa melahap berbagai hapalan tersebut. Dan.. kegiatan belajar jadi terlihat demikian sederhana ya.  

Tapi kenapa ya, kegiatan yang sepertinya sederhana ini ternyata tidak steril dari berbagai problem? Lihat saja program remedial yang diadakan sekolah, rujukan ke psikolog, belum lagi les tambahan, bimbel, dan sejenisnya? Apakah jam belajar di sekolah tidak memadai? Atau ada hal lain? Sepertinya semua aktivitas tambahan itu dianggap common dalam proses belajar siswa. Benarkah demikian? Absolutely not, dear! There’re problems. Meaning, ada yang salah dong dengan cara pembelajarannya? Terkait hapalan kah? Heem.. kita liat ya. 

Begini, otak kita memiliki fungsi yang demikian kompleks. Menghapal atau rote-memorization merupakan salah satu fungsinya. Dalam hal ini berlaku postulat: Bila  fokus menstimulasi satu aspek saja (memory) akan berdampak disfungsi pada aspek lain. Tidak digunakan, maka terputus synaps. 

But, wait, sebenarnya apa saja sih aspek lain dari fungsi otak yang perlu didevelop juga? atau kalo orang psikologi menyebutnya kognisi. Definisinya kurang lebih begini: proses pencerapan dan pengolahan data yg mencakup totalitas kemampuan; didalamnya tercampur antara persepsi, pikiran, emosi, imajinasi, memori, intuisi, dsb, juga pola2 sikap yg kita internalisasikan menjadi mekanisme.See? ternyata fungsi otak itu tidak sekedar mengingat loh, tapi juga kemampuan analitik, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, imajinasi, kepekaan, keterampilan dalam membangun relasi dengan lingkungan, kreativitas, rasa ingin tahu, dan banyak lagi. 

Kebayang kan kalo kita hanya fokus pada materi hapalan, berarti kita sedang mengkerutkan potensi akal manusia yang demikian kompleks menjadi flat, hitam-putih, sekedar benar-salah. Mencerabut aktivitas sel-sel saraf lainnya. Wah, ini dampaknya bisa kemana-mana, loh. Dalam relasi sosial misalnya, kenapa agresivitas-destruktif sering jadi pilihan orang untuk menyelesaikan masalah? Ya, karena mereka tidak bisa berpikir alternatif, kepepet, ga menemukan jalan keluar, akhirnya tindakan seperti itu yang muncul. Atau kenapa kok sulit sekali menemukan orang yang kreatif yang bisa memberikan manfaat bagi lingkungan? Yaa.. karena mereka, anak-anak kita terbiasa didikte, terbiasa disuruh menghapal, sesuai instruksi ibu guru. Interaksi pembelajaran disekolah akan mempengaruhi pola pikir mereka dalam menjalani kehidupan.  

 

6 Responses to “Dunia Hapal-menghapal (bag.1)”

  1. liliek Says:

    teh..tulisannya bagus, sangat baik dan perlu diketahui oleh para ibu. masukin ke buletin akhwat dong biar ibu2 yg msh punya anak tk dan sd ngeh…

  2. diannovi Says:

    mba Liliek.. waaah, seneng liat commentnya, akhirnya bisa nimbrung juga.;)) buletin akhwat? mangga, silakan saja kalo tim buletin akhwat berkenan..;))

  3. Izah Says:

    saya setuju sekali dengan tulisan ini, saya juga pusing kalau menghadapi anak-anak yang keracunan sederet rumus matematika yang gak perlu sampai akhirnya logikanya gak jalan, jadi tambah susah ngajarinnya. salam kenal ya…

  4. diannovi Says:

    Senangnya bertemu seseorang yang sevisi.;)

    Salam kenal juga..

  5. Trikke Says:

    Heya

    Very nice site. All the best.

  6. dimas Says:

    Salam’alaikum teh Dian :-)

    Begitu miris hati ini ketika melihat keponakanku belajar di malam hari. hapalannya buaaanyak sekali, belum lagi les kumon yang belum tentu bermanfaat bagi si anak. saya geleng-geleng kepala ketika melihat pelajaran agama, semua ayat dihapal bahkan sampai keajaiban-keajaiban nabi pun harus dihapal padahal menurut sheik Bawa agama bagi anak kecil adalah menghormati orang tua dan bertingkah laku baik.
    sekolah membuat manusia terasing dari dirinya sendiri.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: