Catatan harian di RSJ Bogor (2)

Selasa, 23 Juni 2009

Saya bergegas datang ke rs, hp di tangan berdering-dering. Saya terlambat. Begitu tiba, teman saya menyampaikan salam dari pasien yang tengah saya observasi. Saya menunggu mereka berbenah setelah sarapan. Sambil menyiapkan alat-alat tes saya duduk dekat teras yang luas. Angin semilir menerpa teduh. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1882 ini masih sangat kokoh. Langit-langitnya menjulang sekitar 4,5m, dihiasi dengan banyak sekali jendela yang berdaun lebar dan besar, tingginya nyaris seukuran tubuh manusia. Antar bangsal ditengahi oleh lapangan rumput nan luas dengan pohon rindang di sana-sini. Dibawahnya di buat bangku kayu panjang berderet-deret.

Ada yang sedang bermain gitar. Bagus sekali. Baru saja saya hendak beranjak, beberapa pasien keluar dari kamar berjeruji dan menyalami sembari menyebut nama saya. Oops! Mereka hapal nama saya. Hmm… mulai saat ini saya bertekad menghapal semua nama pasien di bangsal tersebut.

Hari ini kami berinteraksi lebih dekat. Sikap saya lebih rileks dan mereka pun begitu. Mereka ‘pembaca’ yang jitu. Radar rasa mereka peka sekali. Sedikit saja perubahan rasa, efeknya langsung terlihat pada sikap mereka. Ketika ada cerita mereka yang membuat saya ngeri, mereka juga makin tegang. Isi ceritapun berubah menjadi agresi. Saya harus pandai menata emosi. Bahkan ketika tanpa sengaja saya menyilangkan tangan, mereka juga ikut menyilangkan tangan. Benar-benar seperti cermin. Salah seorang diantara mereka bagai cenayang menebak hobi saya:’ibu psikolog pasti suka jalan-jalan yaaa..’. Mereka aja tau..;)

Saya mengobservasi seorang pasien yang pandai bermain gitar. Ketika dipanggil ia langsung keluar kamar dengan antusias. Ke beberapa teman ia berpamitan:’saya ngobrol dulu ya sama ibu psikolog’. Dia bercerita banyak tentang masa lalunya. Bagaimana ketika kelas 2 SD ia pernah dibenamkan di bak mandi gara-gara menghabiskan makanan ayahnya tanpa ijin. Hingga bagaimana asal mula ia di bawa ke tempat itu. Termasuk tentang halusinasi dan waham. Penglihatan, pendengaran dan perasaan yang hanya ia sendiri yang tahu.

Sambil ngobrol beberapa kali pasien merokok. Saya menggeser posisi duduk untuk menghindari asap. Dengan penuh pengertian, tanpa di suruh, ia menutupi asap agar tidak mengganggu. Pasien-pasien di sini semua pecandu rokok. Mereka sanggup tidak makan asalkan tetap merokok. Dan, menurut seorang petugas, efek tidak boleh merokok jauh lebih parah ketimbang bila mereka tidak mengkonsumsi obat. Saya jadi ingat teori Freud. Menurut Freud, individu yang rentan terkena schizophren adalah mereka yang mengalami fiksasi pada fase oral. Fase oral di tandai dengan aktivitas motorik mulut (menyusu) yang –konon- bila tak terpuaskan akan menyebabkan terjadinya fiksasi.  Merokok merupakan bentuk substitusi dari pemuasan kebutuhan (fase) oral. Rokok merupakan simbolisasi dari kebutuhan dependen mereka. Umumnya memang laki-laki yang merokok. Bagaimana dengan perempuan? kebutuhan oral perempuan bisa di substitusi melalui omongan. Banyak ngomong, tepatnya. Cerewet.
Itu kata Freud. Boleh percaya boleh tidak.;))

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: