Catatan harian di RSJ Bogor (1)

Sahabat setia blog diannovi, saat ini saya sedang menjalani praktikum di rumah sakit jiwa bogor (RSMM). Pengalaman ini akan saya posting dalam bentuk catatan harian. Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa kita hikmati bersama. Selamat menikmati…

Senin, 22 Juni 2009

Hari pertama di RSMM. Setelah acara serah terima pihak fakultas ke rumah sakit, kami di boyong berkeliling rumah sakit. Mengunjungi bangsal-bangsal dalam area seluas kurang lebih 579.000 m2.  Tempat pertama yang kami kunjungi adalah bangsal kresna, semua bangsal di namai dengan nama tokoh pewayangan, yang merupakan bangsal isolasi. Biasanya pasien dari IGD jiwa (instalasi gawat darurat jiwa)  sementara waktu ditempatkan di bangsal ini untuk di observasi, kemudian diberikan treatment medikasi sampai pasien cukup tenang untuk dipindahkan ke bangsal umum. Kami masih menunggu gerbang bangsal di buka, nyali kami langsung menciut mendengar teriakan-teriakan histeris dari kamar-kamar berjeruji. Rupanya ada pasien yang baru masuk.

Kepala ruangan menyambut kami dan memberi beberapa informasi terkait bangsal tersebut. Di sela-sela tanya jawab pandangan mata saya mengitari kamar-kamar berjeruji, di kamar pertama, si pasien baru masih berguling-guling di lantai. Kamar kedua, seorang wanita berjilbab mengamati kami dari lubang jendela berjeruji. Saya balas menatap.  Pandangan matanya tajam… lamat-lamat saya merasakan tatapan anak kecil seperti menggapai tengah minta tolong dari kedalaman sunyi. Gelap. Dada saya menyesak haru. Di kamar sebelahnya, beberapa pemuda merapat ke pintu, sama seperti wanita berjilbab, mereka hanya mengamati kami. Mungkin sudah terbiasa juga di kunjungi oleh praktikan lainnya. Sudah terbiasa dijadikan objek praktikum oleh para mahasiswa yang tengah mencari gelar. Seorang pemuda,  sibuk menyuiti kami, yang di dominasi perempuan. Wajahnya sumringah, tersenyum lebar dan sibuk menyapa kami sesuai dengan jilbab yang kami kenakan,”merah… yang jilbab merah dong. Siapa namanya?.” Tapi kami sedang beku… ketakutan.

Saat itu waktu menjelang zuhur, sayup-sayup kami mendengar lantunan azan. Suaranya lembut, langgamnya sempurna. Saya mencari dari manakah suara itu berasal. Suara ini asli. Bukan dari pengeras suara, apalagi rekaman. Sempat terpikir apakah di bangsal ini menyediakan mushola. Saya pertajam pendengaran saya, ternyata suara ini berasal dari salah satu kamar di sudut. Kamar itu bentuknya sama dengan kamar-kamar lain yang ada di bangsal kresna. Hanya saja bangsal ini gelap sekali. Kami tidak bisa melihat ke dalam. Selain itu, pasien ini tidak seperti pasien lain yang berlomba-lomba merapatkan wajah ke jendela kamar. Betul-betul gelap. Seolah tak berpenghuni. Hanya suara azan yang menjadi indikator bahwa kamar tersebut berpenghuni. Di kamar segelap itu, bagaimana ia bisa mengenal waktu?.  Saya masih terpesona dengan suara azan itu, hingga tak terasa pembimbing mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan ke bangsal-bangsal lainnya.

Bangsal yudistira, dewi amba, utari, gatot kaca, nakula, bratasena, dewi kunti, dan seterusnya. Kami keluar masuk bangsal, mengamati pasien dalam kamar-kamar berjeruji, berkenalan dengan pasien yang telah dibolehkan berinteraksi di seputar bangsal. Ada pasien yang tampak tak peduli, asyik bergelung di tempat tidur atau melamun dengan posisi stagnan. Itu hanya sebagian kecil. Kebanyakan mereka justru terlihat ramah. Menyapa kami. Bahkan ada yang bernyanyi ‘euis’ ketika tahu kami berasal dari bandung, suatu bentuk penyambutan yang unik. Ada yang bertanya tentang behel saya (mereka ngerti behel ya?). Ada pula yang minta pulpen dan kertas hendak membuatkan puisi. Hah! Saya langsung senyum-senyum kira-kira bagus mana ya puisi mereka dengan saya? haha!. Sayangnya petugas tidak mengijinkan pasien memegang pulpen, dianggap benda tajam, kebetulan kondisi pasien masih belum stabil.

Tingkah polah mereka mengingatkan saya  pada murid-murid TK. Ya! Saya serasa ada di taman kanak-kanak. Saya pernah lama berkecimpung di pendidikan usia dini. Di sini, di rumah sakit jiwa, saya mendapatkan kembali rasa itu. Betul. Mereka mirip anak-anak. Polos. Apa adanya. Jujur. Ramah. Penurut… sangat penurut.

Hari pertama masih merupakan orientasi. Hari ini, hari kedua, saya akan berinteraksi lebih lekat dengan pasien di bangsal yang sudah dipersiapkan untuk saya: Yudhistira. Semoga saya bisa berkontribusi lebih baik hari ini. Demi sesosok insan yang tercipta dalam rengkuhan Rahmaan-Rahiimnya…

4 Responses to “Catatan harian di RSJ Bogor (1)”

  1. Tessa Says:

    What an exciting journal!
    Kok iso ya, nama ruangannya dengan nama wayang? Remember dear, there is no such thing as coincidence. Paramartha kan erat juga dengan pewayangan.

    Tingkah polah mereka seperti anak2 TK? Hmm..quite interesting. :)

  2. diannovi Says:

    ya..ya, menarik. aku jg ga sabar menanti esok. let’s see..;)

  3. cha Says:

    yaa,.itu sangat menarik. saya juga pernah pergi kesana, pengenalan, sama seperti yang diannovi alami. kalau diannovi mengalami ‘diminta pulpennya’ , kalau saya, ‘diminta gelangnya’. :D

  4. diannovi Says:

    salam kenal, Cha!

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: