Review: Hercules
Hasrat Hercules untuk kembali ke negeri Dewa, sungguh tak tertahankan. Namun sayangnya, hasrat tersebut tak bisa terpenuhi bila ia belum menunaikan sebuah tugas. Sebuah tugas mulia yang tersemat semenjak kelahiran dirinya. Sebuah tugas yang membuat Hercules dirundung bingung untuk menentukan langkah; harus mulai darimana? Sedangkan ia tidak tahu kebaktian apakah yang bisa membawanya kembali ke negeri para Dewa. Negeri kesejatian. Tempat asal muasal dirinya…
Hercules melambungkan angan, membayangkan negeri indah yang kerap dilantunkan dalam langgam para pujangga. Ia tidak tahu pasti apakah gerangan tugas yang dimaksud. Hingga seorang bijak menyarankan dirinya agar pergi ke kuil dan bermohon petunjuk. Maka pergilah Hercules ke kuil, berdoa penuh sungguh, berharap sebongkah teguh hati demi menempuh tugas diri. Doa Hercules tak sia-sia. Ia beroleh isyarat langit. Sebuah perjalanan harus ditempuh untuk mencari seorang guru. seorang guru yang kemasyhurannya abadi sepanjang jaman. Tak terkira banyaknya, pahlawan besar yang lahir lewat tangan dinginnya. Guru itu adalah: Satyre.
Satyre, seorang guru yang sungguh tak sedap dipandang mata: ia bermuka masam. Bertubuh pendek-gempal, bertelinga runcing, tak berambut, bertanduk, setengah tubuhnya lebih mirip hewan ketimbang manusia. Tapi itu belum seberapa. Yang lebih membuat giris adalah kata-katanya yang tajam. Si pahit lidah, julukan baginya. Satyre selalu menyuarakan kegetiran, sinisme, melihat sesuatu dari cara pandang yang tak biasa. Sehingga tak jarang Hercules menuduh sang guru seorang paranoid.
Tapi lihatlah, itulah strategi jitu dari Satyre untuk membuat seorang pahlawan tumbuh. Kata-kata Satyre bagai rasah yang mengilapkan cermin. Mereka, para asuhannya, tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya tangguh, kuat, dan strategik, tapi juga…bervisi!.
Ya. Satir. Kegetiran. Kepahitan. Adalah sesuatu yang selalu kita hindari. Kecuali bagi mereka, orang-orang, yang berhasrat kembali.
October 28th, 2009 at 19:27
Saya pernah denger kata-kata begini Tante:
Wajah sang guru sama dengan wajah sang murid.
Kalo muridnya bengal kayak hercules, kayaknya sang guru harus tampil seperti satyre.
November 27th, 2009 at 12:46
emmm… ini kayaknya bukan review film animasi hercules rilisan disney ya, yang akhir-kahir sering ditonton anak bungsuku. he he he…
November 30th, 2009 at 09:21
@satrio: oh ya? wah baru denger tuh. makasih infonya ya..
@wartax: ini emang hercules yg kartun disney itu;)