Review: Click

Kebayang ga apa jadinya bila kehidupan bisa kita kendalikan sebagaimana remote-control pada tv?. Apa rasanya bila kehidupan bisa di forward, backward, pause, divert, skip, kontrol volume, warna… apapun bisa dikendalikan lewat benda kecil nan multi-fungsi ini. Dan, hei lihat! betapa tergantungnya kita pada benda kecil ini. Benda pertama yang kita cari sebelum menyalakan tv. Sekaligus benda terakhir yang kita tinggalkan saat tv dimatikan. Dengan remote ditangan, silakan tentukan channel favorit anda. Pilih acara yang bisa membuat kita break sejenak dari keseharian. Acara yang bisa membuat pikiran kita beralih dari rutinitas dan larut dalam fantasi.

Begitulah yang terjadi dengan tokoh dalam film ini. Remote-control yang ia punya memiliki keistimewaan: bisa mengendalikan kehidupannya. Remote-control istimewa yang bisa membuatnya skip dari kenyataan pahit. Remote-control yang khusus menayangkan fase yang ia inginkan. Masa-masa happy-ending.

Bagaimana ya rasanya bila kita punya kesempatan seperti itu? well, dear, it sounds a bit childish. Cerita film ini memang fiksi belaka. Bahkan mungkin tidak pernah terlintas dalam angan-angan kita untuk memiliki remote-control ajaib ini.

But, wait, kalo pertanyaannya saya ubah: apakah anda pernah mengalami masa sulit, let’s say, One bad day yang membuat kita ingin segera berlalu darinya. Saat-saat dimana rasanya kita ingin waktu berputar lebih cepat. Ingin suatu urusan cepat beres. Saat-saat ketika… menunggu kelahiran, saat merawat anak yang sakit, saat menyelesaikan tugas kuliah, saat mengerjakan proyek, saat gagal presentasi, saat konflik dengan suami, saat blingsatan menanti calon pendamping. Bagaimana rasanya? Terbersitkah keinginan ntuk memiliki sesuatu yang bisa mengendalikan keadaan. Paling tidak sesuatu yang bisa mengalihkan kita dari keadaan tidak nyaman tersebut. Sesuatu yang serupa dengan fungsi remote-control. Pengendali keadaan. Remote control dalam wujud berbeda; mungkin pekerjaan anda? Bisa juga kecerdasan, atau fisik yang sempurna. Apa lagi? kemampuan menulis, kemampuan negosiasi, anak-anak? dan… berbagai manifestasi lainnya.

Sebenarnya sedari kecil kita telah dididik untuk belajar mengembangkan kemampuan kendali diri. Di sekolah kita ditanamkan agar giat belajar, supaya mudah mendapat pekerjaan dan jadi orang sukses. Di rumah kita diajarkan berbagai keterampilan agar mampu mandiri. Kita belajar mengembangkan kemampuan yang kelak bisa kita andalkan sebagai tumpuan dalam kehidupan. Kemampuan untuk mengendalikan.

Apa yang paling kita andalkan dalam kehidupan kita saat ini? mari kita hayati sejenak betapa sedari kecil kita seringkali diiming-imingi sesuatu yang sifatnya material. Pun kegiatan berprestasi ditanamkan agar kelak kita mendapat posisi atau pekerjaan yang prestige. Pekerjaaan diasosiasikan dengan pendapatan material, yaitu: uang. Maka, pekerjaan (baca: uang) menjadi pusat kehidupan kita. Beliefs yang terbangun adalah: uang bisa mengontrol kehidupan. Maka segenap energi kita akan di daya upayakan untuk memprioritaskan hal ini. Melebihi apapun. Bahkan networking dibangun demi harapan menjaga posisi.

Sayangnya, sebagaimana tokoh dalam film ini, belakangan justru ia yang dikendalikan oleh remote-control tersebut. Simetri dengan kondisi kita saat ini. Tanpa disadari kita telah dikendalikan oleh berbagai atribut yang menjadi andalan diri. Kita bekerja keras agar mendapat uang dan bisa mengontrol keadaan, -bukankah dengan uang kita merasa lebih independent? Paling tidak merasa punya power terhadap yang lebih lemah posisinya.

Uang bisa berpartisipasi sebagai pengganti diri. Uang bisa berperan sebagai kompensasi. Ketika anda mengatasi rasa bersalah akibat keterbatasan waktu dengan anak, anda menggantinya dengan menghujaninya berbagai fasilitas. Dari mulai mainan, rekreasi, sampai sekolah mahal. Begitu pula bila anda cemburu pada luasnya relasi sosial istri, maka anda akan mengurungnya di rumah dengan berbagai fasilitas. Tidak hanya itu, derma andapun dibayangi motif demi mengekalkan pekerjaan. Bila itu yang tengah terjadi berarti remote-control anda adalah uang. Tinggal menunggu waktu, ketika tiba-tiba kehidupan anda dikendalikan olehnya. Betapa kita menjadi sangat tergantung pada uang dan secara sukarela mengikatkan diri padanya. Melalui kreditan rumah, iuran sekolah mahal, bayar ini itu, selera makan dengan standar high-quality. Hingga kemudian anda menetapkan kebahagiaan pada banyaknya pundi yang berhasil anda kumpulkan. Anda bahkan menjustifikasi kelebihan rejeki merupakan misi anda sebagai perantara rejeki buat yang lain. Oh c’mon!!… Apakah demikian mulianya kita ketimbang orang-orang suci sehingga berani menasbihkan kelebihan rejeki sebagai bentuk kepercayaan dariNya? Representasi kasih sayang dariNya?. Think deeply, dear…
 
Mungkin mulai sekarang kita mesti mencermati remote-control kita saat ini. Yang kerap terselubung dengan berbagai terminologi. Dan mencoba beranjak langkah demi langkah hingga menemukan kebenaran sejati. Like wise man say: nothing but truth.

6 Responses to “Review: Click”

  1. kopi cina Says:

    heheheheh, we’re living in a material world dear,
    there’s no way escaping it. :smile: bahkan Dia menjelaskan berkah/amarahNya dengan perumpamaan materialis kan…

  2. diannovi Says:

    As a beginner, treatmentnya memang reward&punishment. kita di-iming2i dengan hal2 yg sifatnya material. next step, mustinya tidak begitu lagi. kecualiiii.. kalo patologis: terpaku excessively pada step tertentu. ga mau berubah.;)

  3. kopi cina Says:

    kalo kata satpam gua, “bila nggak mau dibina, ya dibinasakan”, uheuheuhuehheuhehuee

  4. Tessa Says:

    i used to say ” i hate to lose control of my life”, now as time goes by, i realize that i was talking non sense! The truth is “i don’t have control of my life”, i mean seriously, how can “I” have control while “I” doesn’t even exist….

  5. diannovi Says:

    remote control means power!

  6. Satrio Pringgodani Says:

    Tante Dian emang top markotop deh, apalagi kalo mau mampir ke blog saya: http://100tokohsejarah.wordpress.com/. Hehe…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: