Movie: Butterfly effect 2
Sebetulnya film ini berkisah tentang kehidupan skizofren. Jika di film Beatiful mind yang disorot adalah tipe sizo-parno (schizofren type paranoid). Nah, film ini justru menggambarkan tipikal cara pandang seorang sizo dalam menghadapi persoalan hidup.
Lihatlah ketika seorang sizo menghadapi tekanan berat / stres maka ia akan membangun imajinasi tentang (bagian) dirinya yang lain untuk escape dari situasi yang tidak ia inginkan. Bagaimana caranya? mencari stimulus sesuai yang ia inginkan. Dalam film ini stimulusnya adalah foto. Dari stimulus itu ia akan berperan sesuai dengan peran yang ia inginkan, dalam rangka mencari situasi yang nyaman untuk dirinya. Orang sizo itu kalo sudah menghayati sesuatu wah dahsyat. Mendalam sekali. Segenap energinya akan difokuskan pada goal yang akan ia capai. Bila ia ingin jadi juara kelas, misalnya, maka segenap kehidupan dan potensi diri akan dilibatkan sepenuhnya untuk mencapai tujuan tersebut. Ia akan memainkan perannya dengan baik sekali, yang manifest dalam tingkah laku pelajar yang baik: rajin belajar, les ini-itu, konsentrasi pada pelajaran, berkompentisi, dan sebagainya. Dan untungnya, IQ juga mendukung. Iya loh, umumnya, orang-orang sizo ini kecerdasannya diatas rata-rata.
Eh, bukannya malah bagus? bila mereka bisa dimotivasi demikian, fokus pada bidangnya, mereka pasti bakal sukses ya. Apalagi secara sosial, mereka juga tetap terlihat baik-baik saja. Ga masalah toh? Jangan salah, ini bahaya latent. Kalo kebetulan lingkungan di sekitar bisa memenuhi standard sesuai belief yang ia bangun (mis. pasangan yang sabar, anak yang menyenangkan, orangtua yang suportif, dan sebagainya) mungkin tidak jadi soal. Namun bila lingkungan ternyata tidak berjalan sesuai maunya, wah bisa muncul tindakan ekstrem. Skala ringan adalah: emosi yang meledak. Kemarahan yang bisa ia munculkan dalam bentuk agresi (memaki-maki, memukuli) ke orang lain atau sebaliknya agresi yang ditujukan ke diri, dari mulai memukuli diri sendiri, mengurung diri hingga jatuh sakit (pingsan, kejang, sesak napas, demam). Itu paling ringan, kalo sizo-nya masih taraf slight.
Yang berat emang gimana? Tindakan ekstrem seperti: mencekik anaknya hingga mati lemas, menelantarkan istrinya di pinggir jalan, menembak orangtuanya, meledakkan mobil orang, dan sebagainya. Atau sebaliknya bertindak seperti balita padahal sudah berumur paruh baya, atau –kalo sudah punya anak- memperlakukan anaknya seperti bocah 5 tahun, padahal anaknya sudah berusia 25 tahun. Tergantung dari belief yang mendominasi domain pikirnya. Seorang sizo berpikir fragmented. Ia menghayati kehidupan dari satu sisi. Bagian yang paling nyaman baginya. Eh, iya orang sizo ini kan pencemas ya. Jadi ia akan selalu berusaha mendesain lingkungan yang membuat ia merasa aman. Nyaman.
Contoh yang aktual, kasus ibu yang membunuh ke-3 anaknya. Dia ga merasa bersalah tuh membunuh anaknya. Ia justru merasa telah menyelamatkan masa depan anak-anaknya. Kok? Ya, karena menurut perhitungan matematisnya, dengan kondisi keuangan yang dimiliki saat ini, tidak akan mungkin ia bisa memberikan pendidikan bermutu bagi anak-anaknya. Ia khawatir kesulitan ekonomi malah akan menjerumuskan anak-anaknya pada kehidupan yang buruk dan diwarnai penyesalan. Sampai disini, alasannya logis ga? Logis!. Dia justru ga mau gambling dengan kehidupan. Dia sangat penuh perhitungan, bahkan. Terencana. Well-planned. Pasti kehidupannya rapih. Normatif. Dia bukan pengkhayal, apalagi gambler, yang berharap kehidupan akan berubah secara drastis, seperti dalam dongeng. Mengharap keajaiban. Itu definisi orang bodoh; mengulang-ngulang tindakan yang sama sembari berharap beroleh hasil yang berbeda. Udah tau setiap kali ketemu A pasti bertengkar, masih aja ditemui dengan harapan siapa tau kali ini ia berubah. Eh, analoginya pas ga?:D
Back to kasus, nah berdasar alasan ini kemudian si ibu ini mencari solusi. Solusi ini yang justru menghantarkan ia dalam perawatan jiwa. Mirip seperti di film ini. bagaimana seorang sizo mencoba escape dari situasi yang tidak nyaman. Ia akan menafikan pertimbangan dari perspektif lain. Dan malah membangun halusinasi untuk mendukung belief-nya tadi. Ciri orang sizo: rendahnya persfective-taking. Hidup dalam satu polaritas tertentu. Output perilakunya mereka jadi terlihat: rigid. Kaku. Keras. Otoriter. Orang2 sizo yang pernah saya temui justru dalam kesehariannya terlihat normatif dan cenderung konvensional. Penganut nilai-nilai yang ketat. Orang laki itu mustinya gini-gini. Ibu-ibu itu harusnya begitu.
Tindakan para sizo memang sering mengejutkan. Karena, nampak luarnya baik-baik saja; mereka tetap bisa bersosialisasi, ikut pengajian, pendidikan tinggi, karir sukses. Normal saja. Masalahnya, kita kan tidak bisa ya memprediksi atau mengontrol lingkungan agar sesuai maunya kita. Ya seperti yang tadi disebut, beruntunglah bila orang-orang sekitar, keluarga terdekat bisa menciptakan iklim relasi yang baik. Bila tidak? Be careful..
Ingin punya gambaran lebih jelas tentang kehidupan sizo, tonton: butterfly effect 2.
March 8th, 2009 at 21:23
Dimana batas seseorang mulai terbelah? Seandainya merasakan dalam jiwa ini ada karakter lain yang kadang muncul, apa itu indikasi terjadinya schizopren.
Dan mengenai darkside, ada sebuah buku yang menulis tentang How to kill your darkside. Kadang di saat genting, justru basic instinct yang menyelamatkan, sebagian dari keunggulan darkside dalam survival.
Salam kenal dari kami
Imamnic - Dyonisos - Nicholas Lestat
Imam adalah seorang ayah yang baik dan seorang profesional, Dyonisos adalah psikolog handal - pengawas dan manipulator perasaan, Lestat adalah sang pembunuh berdarah dingin - sang penakluk - sang pencinta.
Should I kill them?
:-p
March 9th, 2009 at 21:16
No!. Don’t. Leave Lestat to me. Im bored with the rest of two’s.
^_^
March 9th, 2009 at 22:34
Well, he is a little bit uncontrolled sometime. Frankly speaking, I doubt you can handle him :-p. But please, if you want to. Talk to him…
Lestat, a character who imitates a legendary vampires. Long before Edward came to novelties, Lestat is the cassanova. His touch make my life not plain, it was as bored as a teenager with a chess board and turn it into sometime bitter but sweet. Like a well mix dark premium chocolate.
His presence ripped my introverties, came a long with Dyonisos in teen age. Born in my theater age, in stage act, in the beauty of the poetry, in dark novel, in Nietzche books, I believe he lurked in childhood misery and bursted out to let me feel happy.
He make my life more live. Lestat have gift in touching emotion, have strength to work with passion, have charm in speaking to another beautiful mind, have magnetism for those who lust for soulmates. Lestat is romance, is charm, is emphatic, is ambition, is passion, is Id. Lestat offers a complete virtue of the darkpath.
Lestat is my partner in crime, partner in glory, partner in self sufficiency.
But sometime he is bad. That’s why he stay outside my family circle. Never showed up there.
What do you suggest?
^_^
March 11th, 2009 at 10:55
Another you is always more interesting than you.;)
Good you, so able to realize his existence and live together (in peace?).
Thanks to describe him to me.
Lestat, you’re allowed to exhibit ‘your-temptation-self’ and being my inner-circle.
Welcome.
^_^
March 26th, 2009 at 23:46
Then, something make me alive again
You.should.not.wish.that…
My boring side revived again my old blog, he deleted all before, for 3 years I was dormant, left only one post. And then I just live. He’s blog is boring, so I have my own now
Please, he said that this is anonymous
He have a life, this thing could ruin it he said
Hahaha, a boring life then…
March 28th, 2009 at 06:49
Boredom.
Well, well, when ‘re you getting bored? what kind of man which we say he’s bored?
my answer: when he cant emerge his genuine!
so, the next question is: what is genuine? is your darkness more genuine than you?
people said: unconscious more interesting to be heard than consciousness. because he always said the truth. though, it hurts..
how about you?