Psikologi: langkah awal mengenal dimensi psikis insan
Shakespeare pernah bilang gini: “Let me have men about me that are fat; sleek-headed men and such as sleep o’nights. Yon Cassius has a lean and hungry look; He thinks too much, such men are dangerous.” (Julius Caesar)-
Sebelum muncul psychodiagnostic (terkait alat2 tes, spt: Rorschach, grafis, PAPI, TAT, WB, dsb), karakter dan temperamen seseorang diidentifikasi melalui bentuk fisiknya. Ide ini konon dikenalkan pertama kali oleh Aristoteles yang berpendapat bahwa tubuh manusia adalah rekaman/print-out dari keadaan ‘dalam’ dirinya. Belakangan asumsi ini makin di perkaya dengan berbagai pendekatan lainnya, seperti: ukuran kepala/phrenology, bentuk tubuh/tipology, cairan tubuh (sanguin, dsb), bentuk kuku, perpaduan indra (bentuk alis, jenis rambut, kulit, dsb), garis tangan/palmistry, tulisan tangan/graphology, nada suara, dan banyak lagi lainnya. Pokoknya setiap inci bagian tubuh manusia tidak luput dijelajahi.
Ini menunjukkan betapa besar hasrat mengenal diri. Orang tak pernah kehabisan ide memberikan berbagai bahasan, deskripsi tentang manusia. Efeknya, teori psikologi itu jadi banyaaaaaaaaaaak bangets.
Semua pendekatan dan teori itu saling mendukung menjadi satu kesatuan dalam proses mengenali kepribadian (needs, dorongan, motif, dsb), karakter, temperamen, orientasi personal dan tingkah laku seseorang. Dimensi psikis insan. Walau tidak semua pendekatan itu layak dikategori dalam teori kepribadian, secara empirik. Tidak ada salahnya menyertakannya dalam suatu dinamika yang komprehensif saat meng-asses seseorang. Syaratnya, musti di dukung keterampilan analisa diagnostic yang tajam.
Kalo ndak pake alat tes, terus kebetulan nemu tulisan tangan yang unik. Misalnya, tulisan tangan yang tekanannya demikian kuat sampai tembus ke belakang kertas. Bisa diinterpretasi sebagai orang yang: punya kecenderungan infantilitas, motoric-impairment atau malah menunjukkan hasrat seksual yang hyper -Gulp!. Nah, menentukan apakah dia seorang yang infantil, impairment atau hyper, musti dilihat dinamikanya. Ga bisa linier. Disini seninya jadi seorang observer atau interpreter. Nada suara juga bisa menggambarkan needs atau dorongan seseorang. Orang yang bicara dengan penuh tekanan menggambarkan agresi sekaligus ambisi dan motivasi yang menggebu-gebu. Suara cempreng menggambarkan orang yang sugestible, ga punya pendirian, males mikir, sekaligus sulit dipercaya. Cempreng penuh tekanan beda lagi interpretasinya.;))
Bahkan penyakit yang diderita seseorang juga merepresentasi tipe kepribadian seseorang. Mari kita cek, bener gak orang yang punya penyakit di bawah ini juga punya masalah psikologis..
Ulkus peptikum (Maag): orang yang terpaksa menjadi independen / terputus dari kebutuhan ketergantungan, namun secara aktif mencari jaminan ketergantungan; merepresi kemarahan dan dendam.
Kolitis (diare): mengalami intimidasi di masa anak; ada konflik antara kebencian dan keinginan memaafkan. Ingin menutupi kemarahan dengan sifat memberi yang simbolik.
- Ini biasanya terjadi pada orang dengan kepribadian ambivalent (aktif maupun pasif).
Hipertensi esensial: orang yang ambisius, ingin memperoleh penerimaan dari orang yang berkuasa/figur otoritas (orangtua/bos, dsb), dipaksa pada masa anak untuk menahan kebencian, merasa bersalah karena impuls (dorongan) permusuhan yang bisa timbul dari dirinya. Didominasi perasaan permusuhan (hostile).
Migrain: perfectionist! pribadi yang teliti, cermat; punya ambisi tinggi tapi kemampuan terbatas. Iri, cemburu pada kompetitor yang lebih berhasil dalam hal intelektual/finansial/kecantikan (tergantung objek kecemburuannya).
Asma bronkialis: merasakan kecemasan akan perpisahan; orang yang mendapat kasih sayang maternal (dari ibu) yang tidak konsisten/labil kepribadian (kadang memberi afek berlimpah namun di sisi lain juga pemberi hukuman); memiliki ketakutan dan rasa bersalah bila impuls (dorongan) permusuhan di ekspresikan pada orang yang di cintai. Orang yang sangat penuntut (demanding-person). Sering sakit-sakitan. Symptom yang mengekspresikan keinginan akan perlindungan yang tersupresi.
Neurodermatitis (eksim, alergi): orang yang kecanduan kasih sayang, akrab secara superficial (enggak tulus). Mudah depresi. Konsep diri yang negatif dikompensasi dengan kebutuhan menonjolkan diri (ekhibisionis) demi mendapatkan perhatian.
How do you think, my dear fellas?
January 14th, 2009 at 20:13
yup, aku percaya banget bahwa semua yang ada di luar diri kita, mulai dari perawakan, warna kulit, bahkan hingga kejadian yang terjadi dalam hemisfere seseorang adalah cerminan dari proses yang terjadi di jiwanya, ya itu T’D cermin ajaib tea…
Hayo terusin, pembahasannya, ini bab pendahuluan juga belom kelar hehehe
January 15th, 2009 at 18:51
Hihi.. banyak ya pe-er-nya. Thank for encouraging me, sweety..
February 5th, 2009 at 11:16
kok bisa begitu yah? yang muncul duluan itu gejala atau analisisnya yah?
May 14th, 2009 at 15:39
/applause
boleh belajar gratisan ttg psikologi g? hehe