Catatan harian di RSJ Bogor (5)

July 1st, 2009

Jum’at, 26 Juni 2009

Jelang 5 hari saya berinteraksi dengan penghuni. Tema keluhan para penghuni tak pernah beranjak jauh dari rasa marah, benci, dendam, merasa di perlakukan tidak adil, merasa tidak di sayang, merasa tidak berharga. Betul. Betul. Memaafkan mungkin bisa menjadi obat. Ringan lisan kita berkata itu. Apa yang membuat kata maaf terasa ringan di ucap sulit di laku? Apakah karena demikian dominannya rasa?. Ada yang demikian sensitif, begitu perasa, mudah tergugah emosinya. Sehingga masalah kecil terasa besar. Mengendap lama hingga karat di dasar hati. Tidak sekedar itu, beban yang mereka tanggung memang tidak sederhana. Diperlakukan kasar, dilecehkan seksual waktu kecil, ditelantarkan, dihujat makian. Betul. Betul. Kita bisa mendendang

laa yukallifullah nafsan illa wus’aha

. Allah sudah menakar setiap beban sesuai kadar kesanggupan diri. Lalu mengapa mereka tak kuasa menanggung beban?. Apa yang salah?. Apa yang perlu kita tata agar mampu setegar Daud yang bermohon: uji aku tuhanku, agar aku layak bersanding di sisimu. Read the rest of this entry »

Catatan harian di RSJ Bogor (4)

June 25th, 2009

Kamis, 25 Juni 2009

Saya datang lebih awal pagi ini. Petugas shift malam memberi info mengenai keadaan pasien. Masalah yang kerap terjadi di malam hari adalah: masturbasi. Agak mengherankan memang, para pasien secara rutin di beri obat-obatan penenang yang memancing kantuk mudah datang, tapi obat ini anehnya tidak berefek pada alat vital mereka. Fenomena ini cukup meresahkan. Para pasien secara berulang mengutarakan ingin kawin. Kami bisa paham desakan kebutuhan ini. Apalagi pasien sakit jiwa sangat lekat dengan masalah mengontrol impuls. Yang bisa mengalihkan desakan biologis ini mungkin Cuma rokok. Maka tak heran mulut mereka ibarat cerobong asap. Bahkan mereka tak segan mengais tong sampah demi mendapat potongan kertas yang kemudian mereka linting bersama sisa puntung. Bila tak di beri, mereka bisa menceracau, memaki-maki, mengancam akan membunuh, bahkan berlaku agresi. Kalo sudah begini tak ada cara selain mengurung mereka dalam kamar berjeruji, sambil menunggu pemberian obat berikutnya. Para petugas berharap kami bisa memberi solusi bagaimana menyalurkan kebutuhan biologis pasien secara normal. Pe-er besar buat kami. Kami juga menyadari kebutuhan biologis ini pula yang kadang mengaburkan stimulus penyebab pasien di rawat di RS. Karena bila diajak bicara, orientasi mereka berkisar seputar pacar, sakit hati sama pacar, pingin kawin, ga punya duit untuk kawin. Saya harus menggali pertanyaan mendalam sampai bersua dengan inti masalahnya. Read the rest of this entry »

Catatan harian di RSJ Bogor (3)

June 24th, 2009

Rabu, 24 Juni 2009

Saat saya tiba, seorang petugas tengah mencukur rambut beberapa pasien di teras. Mereka antri dengan tertib. Sebagian yang lain tengah main bola bersama petugas. Para petugas melayani pasien dengan telaten sekali.  Hari ini jadwal pengajian. Beramai-ramai mereka datang ke musholla diiringi para suster. Beberapa menghindar, memilih masuk kamar. Saya turut ke musholla. Pasien yang dibolehkan ikut pengajian adalah mereka yang sudah relatif stabil emosinya. Pasien saya sibuk mengenalkan saya pada teman-temannya dari bangsal lain. Saya terharu. Saya sendiri tidak pernah mengenalkan pasien saya pada teman-teman. Tanpa sadar saya sudah mendegradasi aspek keinsanan mereka. Mereka masih menoleh pada saya, sambil mendengarkan cerita pasien saya –yang entah apa yang ia ceritakan pada teman-temannya- untuk menutupi jengah, saya pasang muka serius. Berhasil. Perhatian mereka kembali fokus pada pengajian. Pengajian di mulai. Pertama-tama mereka membaca sholawat, kemudian mengirim al-fatihah bagi orang-orang terdekat. Mendoakan mereka yang tengah sakit. Setelah itu pasien dibolehkan untuk membaca surat-surat pendek. Mereka berinisiatif mengajukan diri. Pasien saya yang pertama maju. Senyumnya sumringah ketika saya acungkan dua jempol. Read the rest of this entry »